Banjir .... banjir ......
Hari Kamis tanggal 2 Februari 2007, Jabodetabek, termasuk Pamulang kedatangan tamu tak diundang, yaitu banjir. Sekitar pukul 11 malam, air mulai memasuki rumah kami, perlahan tapi pasti merayap naik hingga mencapai ketinggian sekitar 30 cm di dalam rumah. Namun di luar rumah (di jalan depan rumah kami), ketinggian air mencapai batas pinggang orang dewasa.
Hari Jumat pagi sebenarnya air sudah surut di dalam rumah, dan kami sudah sempat membersihkan rumah. Namun siang harinya air banjir mulai naik lagi dan mulai masuk ke dalam rumah. Ketinggian air kurang lebih sama, sekitar 30 cm. Baru menjelang senja air surut kembali dari dalam rumah. Kami pun membersihkan rumah lagi. Namun air baru benar - benar surut dari jalanan pada hari Sabtu siang (keesokan harinya).
Pada peristiwa banjir kali ini Rara cukup kooperatif saat dilarang main air. Namun beberapa hari sesudah banjir, bahkan hingga hari ini, nampaknya Rara mulai stress atau bosan. Rara tidak mau ditinggal sendirian untuk beberapa saat saja, padahal Bunda dan Bapak tentunya sibuk membereskan barang - barang yang masih bertumpukan sesudah peristiwa banjir ini.
Walaupun Rara sebenarnya sudah mengalami peristiwa banjir beberapa kali, namun hal itu tidak menyebabkan Rara kebal terhadap trauma pasca banjir. Rara kelihatan cemas takut akan terjadi banjir lagi. Belum lagi berita di TV yang memang gencar menyajikan informasi mengenai kondisi banjir di Jabodetabek. Namun demikian kami tetap berusaha tampak tenang dan menghibur Rara, walaupun di dalam hati kami sendiri juga cemas jika banjir susulan datang. Semoga banjir kali ini membawa hikmah positif bagi kami sekeluarga, khususnya bagi Rara.
Hari Jumat pagi sebenarnya air sudah surut di dalam rumah, dan kami sudah sempat membersihkan rumah. Namun siang harinya air banjir mulai naik lagi dan mulai masuk ke dalam rumah. Ketinggian air kurang lebih sama, sekitar 30 cm. Baru menjelang senja air surut kembali dari dalam rumah. Kami pun membersihkan rumah lagi. Namun air baru benar - benar surut dari jalanan pada hari Sabtu siang (keesokan harinya).
Pada peristiwa banjir kali ini Rara cukup kooperatif saat dilarang main air. Namun beberapa hari sesudah banjir, bahkan hingga hari ini, nampaknya Rara mulai stress atau bosan. Rara tidak mau ditinggal sendirian untuk beberapa saat saja, padahal Bunda dan Bapak tentunya sibuk membereskan barang - barang yang masih bertumpukan sesudah peristiwa banjir ini.
Walaupun Rara sebenarnya sudah mengalami peristiwa banjir beberapa kali, namun hal itu tidak menyebabkan Rara kebal terhadap trauma pasca banjir. Rara kelihatan cemas takut akan terjadi banjir lagi. Belum lagi berita di TV yang memang gencar menyajikan informasi mengenai kondisi banjir di Jabodetabek. Namun demikian kami tetap berusaha tampak tenang dan menghibur Rara, walaupun di dalam hati kami sendiri juga cemas jika banjir susulan datang. Semoga banjir kali ini membawa hikmah positif bagi kami sekeluarga, khususnya bagi Rara.
